Sabtu, 22 September 2012

islam pada masa safawi



Perkembangan islam pada masa safawiyah di persia

A.Pendahuluan
Seiring dengan perkembangan zaman dan banyaknya perkembangan ajaran-ajaran yang berkaitan dengan ajaran agama islam khususnya ajaran yang beraliran syiah hendaknya kita sebagai umat islam haruslah mengetahui sedikit-demisedikit tentang ajaran tersebut dimana hal tersebut akan menambah pengetahuan dalam perkembangan ajaran tersebut di bidang ilmu keagamaan khususnya agama islam.
      Sesuai dengan tema yaitu perkembangan islam pada masa safawiyah makalah ini akan mengupas tentang beberapa pokok-pokok pembasan yang berkaitan dengan ajaran syiah pada masa yang lampau,terutama pada masa kerjaan syafawi dimana aliran tersebut telah di kemukan dianut oleh masa kerajaan safawiyah,adapun beberapa pokok pembahasan yang terdapat dalam makalah ini yaitu tentang asal usul perkembangan safawiyah di Persia,sistim sosial dan politik kemudian kemajuan dan kemunduran di masa kerajaan tersebut,yang akan dibahas di bawah ini.
B.Asal- usul dan Perkembangannya
Kerajaan Safawi berdiri sejak tahun 1503- 1722M. Kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbajian Tarekat ini di beri nama tarekat syafawiyah, yang di ambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din dan nama Syafawi terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama ini terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan,safi al-din berasal dari keturunan yang beda dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya.
Ia keturunan dari imam syiah yang ke enam musa al-kazim.gurunya bernama syaikh taj al-din Ibrahim zahidi yang terenal dengan sebutan zahid al-gilani.karena tinggi ilmu tasawufnya dan banyak prestasi yang di raih kemudian ia di jadikan menantu oleh gurunya tersebut,kemudian ia menggantikan gurunya setelah sepeninggal gurunya dan memimpin tarekat syafawiah,pada awalnya gerakan ini hanya bertujuan untuk memerangi orang-orang yang ingkar dan memerangi orang yang ahli bid’ah tarekat yang di pimpin safi al-din ini sangat berpengaruh besar terhadap ilmu keagamaan kususnya pada daerah syiria,Persia,Anatolia kemudian safi al-din menempatkan pemimpin di masing-masing daerah tersebut yang memimpin murid-mutridnya .[1]
Oleh karena itu, untuk tahap selanjutnya gerakan tarekat Syafawi yang beraliran Syi’ah ini menyatakan aliranya sebagai madzhab negara. Karena itu, gerakan tarekat ini di anggap sebagai peletak pertama dasar Negara Iran dewasa ini
Dapat di pahami bahwa penggagas awal berdirinya Kerajaan Syafawi adalah Syekh Ishak Safiudddin yang semula hanya sebagai mursyid tarekat dengan tugas dakwah agar umat Islam secara murni berpegang teguh pada ajaran agama. Namun, pada tahun selanjutnya setelah memperoleh banyak pengikut fanatik akhirnya aliran tarekat ini berubah menjadi gerakan politik dan awal memperoleh kekuasaan secara konkret pada masa Junaid.[2]silsilah masa kerajaan safawi:
Sebelum terbentuk menjadi kekusaan kerajaan
a.       Safi aldin
b.      Sadar al din musa
c.       Khawaja ali
d.      Ibrahim
e.       Juneid
f.       Haidar
g.      Ali
Setelah menjadi sistim kerajaan
a.       Ismail I
b.      TahmaspI
c.       Ismail II
d.      Muhamad khudabanda
e.       Abbas I
f.       Safi mirza
g.      Abbas II
h.      Sulaiman
i.        Husein
j.        Tahmasp II
k.      Abbas III.[3]

C.Perkembangan Politik
      Suatu sistim ajaran yang dipegang secara fanatik biasanya akan  menimbulkan ke inginan di kalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa,lama-kelamaan murid-murid tarekat safawiyah tersebut berubah menjadi tentera yang teretur,fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang berbeda aliran,pada masa kepemimpinan juneid(1447-1460) gerakan tarekat ini memperluas gerakan kekuasaanya,dan menambahkan kegiatan politik pada setiap kegiatan keagamaannya.
      Hal tersebut menjadikan terjadinya konflik antara juneid dan penguasa karo koyunlu(domba hitam) salah satu suku bangsa turki yang berkuasa di daerah tersebut,dalam konflik tersebut juneid mengalami kekalahan dan diasingkan di suatu tempat dan kemudian tinggal di istana uzun hasan ,namun di tempat inilah dia mendapat tambahan kekuatan dari penguasa diyar bakr,ak-koyunlu(domba putih) yang ketika itu menguasai sebagian wilayah Persia.kemudian ia mempersunting saudara perempua uzun hasan pimpinan ak koyunlu dan mempunyai anak yaitu haidar,namun junaid meninggal saat anaknya masih kecil,ketika ia tengah terlibat konflik dengan tentara sirwan.
      Tampuk kepemimpinan di serahkan pada anaknya pada tahun(1470M) di karnakan menanti anaknya tumbuh dewasa,kemudian hubungan haidar semakin erat dengan uzun hasan setelah haidar mengawini anak dari  uzun hasan yang kemudian mendapatkan keturunan yaitu:ali,ibrahim, ismail,dan ismail inilah yang kelak menjadi pendiri kerajaan safawi,yang kemudian merubah dinasti safawi yang semula hanya gerakan tarekat,dan menjadikannya ataupun mendirikan kerajaan safawi di Persia.kemenangan ak koyunlu atas kara koyunlu membuat gerakan militer pimpinan haidar di anggap sebagai rival politik ak koyunlu,yang kemudian membuat ak koyunlu bersiasat untuk berhianat.
      Dalam penghiayanatan tersebut haidar terbunah dalam peperangan melawan sirwan,dimana sirwan mendapat bantuan dari ak koyunlu yang berhianat,kemudian kekuasan di pegang oleh ali anak tertuanya,karna dorongan dari bawahannya ia melakukan pembalasan dendam namun saat menuntut balas kematian ayahnya ia sekeluarga tertangkap dan di penjara di fars selama empat setengah tahun yang kemudian di bebaskan oleh rustam putra mahkota ak koyunlu dengan sarat mau membantu untuk membunuh saudaranya,setelah dapat mengalahkan saudara-saudara rustam mereka ali bersaudara ke ardabil akan tetapi rustam balik memusuhi dan menyerang ali bersaudara sehingga mereka terbunuh,
      Kemudian kepemimpinana di berikan pada ismail yang masih berumur tujuh tahun,pada kepemimpinan ismail inilah kerajaan safawi berdiri dan bukan lagi  gerakan tarekat melainkan kerajaan, selama lima tahun mereka bersembunyi di gilan dan menyusun siasat dengan pengikutnya di azarbeijan,syiria dan Anatolia dan menyiapkan pasukan yang di beri nama qizilbash(baret merah)ismail berkuasa kurang lebih 23 tahun dan dapat memperluas kekuasaan.ia dapat menumpas sisa-sisa tentara ak koyunlu,menguasai propinsi kaspia,gurgan dan yazd,Baghdad dan daerah barat daya persiaserta bagian timur bulan sabit subur(fortile crescent)
      Sepeninggal ismail I sering terjadi peperangan antara kerajaan usmani,sekaligus tejadi kemrosotan yang di akibatkan perpecahan dalam kerajaan keadaan ini berlarut sampai raja yang keempat,kondisi yang memprihatinkan ini bari dapat di atasi pada saat raja kelima yaitu abbas I.
Keadaan politik pada masa Syafawi mulai bangkit kembali setelah Abbas naik tahta dari tahun 1587- 1629 dan dia menata administrasi negara dengan cara yang lebih baik dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Langkah- langkah yang di tempuh Abbas I dalam rangka memulihkan politik Kerajaan Syafawi adalah:
a.       Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara pengaturan dan pengontrolan dari pusat.
b.      Pemindahan ibu kota ke Isfahan
c.       Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas Kerajaan Syafawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri atas budak- budak yang bersal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I.
d.      Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Ustamni
e.       Berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pada khotbah jumat.
Reformasi politik yang di lakukan oleh Abbas I tersebut berhasil membuat Kerajaan Syafawi kuat kembali. Setelah itu, Abbas I mulai memusatkan perhatiannya merebut kembali wilayah- wilayah kekuasaannya yang hilang.[4]
Pada tahun 1902M percayalah perang Turki dengan Austria dan tentara Turki yang lain itu terpaksa pergi memadamkan pemberontakan kaum tarekat jahiliyah (Maulawiyah) di Asia kecil. Kesempatan ini di ambil oleh Syekh Abbas dan berhasil merebut kembali Tibriz dari tangan Turki. Setelah itu, di rampas juga Sirwan dan akhirnya di ambilnya Baghdad kembali yang sudah berkali- kali jatuh di tangan Turki.[5]
Kemudian ia sanggup menaklukkan negeri Kaukasus dan di perkuatnya batas- batas kekuasaan sampai ke Balakh dan Mervi pada bulan maret 1602M. Ia dapat pula merampas pulau Hurmuz yang telah sekian lama menjadi pangkalan kekuatan bangsa Portugis. Sedangkan nakh civan,Erivan,ganja dan Tiflis dapat di kuasai tahun 1605-2906.[6] 

D. Kemajuan yang dicapai
Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas dibidang politik. Dibidang yang lain, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. Kemajuan- kemajuan itu antara lain adalah sebagai berikut:
1.Bidang Ekonomi
Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih- lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun di ubah menjadi Bandar Abbas. Dengan di kuasainya Bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa di perebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi pemilik kerajaan Safawi.[7]
Di samping sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Forlite Crescent). 
2. Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadapan tinggi dan berjasa mengembangakan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.
Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di masjid istana, yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar Al-Din Al- Syaerazi, filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan obervasi mengenai kehidupan lebah-lebah.[8] Selai itu dalam bidang hukum fiqih yang terkenal pada masa itu baharudi al-amili.saking citanya dengan ilmu,abbas I tidak segan mengadakan penyelidikan sendiri tentang ilmu-ilmu tersebut.[9]Dalam bidang ini, Kerajan Safawi mungkin dapat dikatakan lebih berhasil dari dua keajaan besar Islam lainnya pada masa yang sama.selain itu syah abbas I juga membangun lembaga pendidikan syiah,yaitu sekolah teologi dan juga mampu membiayai penerapan sistim pendidikan syiah.[10]
3. Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut berdiri bangunan- bangunan besar lagi indah seperti masjid- masjid,rumah- rumah sakit, sekolah- sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman- taman wisata yang ditata secara apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum.[11]
Di bidang seni, kemajuan Nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan- bangunannya, seperti terlihat pada masjid Shah yang di bangun tahun 1611M dan masjid Syaikh Lutf Allah yang di bangun tahun 1603M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian, dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I. Raja Ismail I pada tahun 1522M membawa seorang pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad.[12]kemudian pada masa abbas I berkembanglah kebudayaan,kemajuan,dan keagungan pikiran mengenai seni lukis,pahat syair dan sebagainya,di antara pujangga yang terkenal pada masa itu,ialah muhamad baqir ibn muhamad yang juga ahli fisafah dan ilmu pasti.[13]
4.Bidang pemerintahan dan politik
            Secara administrative,strukturorganisasi pemerintahan dapat di bagi secara horizontal dan vertical,secara horizontal pembagian tersebut didasarkan pada garis kesukuan atau kedaerahan.sedangkan secara vertical mencangkup dua jenis,yaitu istana dan secretariat Negara,kemudian aktivitas penyelenggaraan Negara di percayakan pada amir yang terdiri atas kepala suku tingkat atas dan wazir yang tergantung dalam suatu dewan,di samping itu terdapat dewan lain yang berada dalam dewan tersebut yang terdiri atas sejarawan istana,sekretaris pribadi syah dan kepala intelejen.[14]
Demikianlah, puncak kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Safawi. Setelah itu, kerajaan ini mulai mengalami gerak menurun. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang disegani oleh lawan- lawannya, terutama dalam bidang politik dan militer. Walaupun tidak setaraf debgan kemajuan Islam dimasa klasik, kerajaan ini telah memberikan konstribusinya mengisi peradapan islam melaui kemajuan- kemajuan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, peninggalan seni, dan gedung- gedung bersejarah.

E.Sebab-sebab kemunduran Safawi
 Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi berturut- turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza ( 1628- 1642M), Abbas II (1642- 1667M), Suliaman (1667- 1694M), Husain (1694-1722M), Tahsasp II (1722-1732M), dan Abbas III (1733- 1736M). Pada masa raja- raja tersebut, kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Diantara sebab- sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan Kerajaan Ustmani. Bagi Kerajaan Ustmani, berdirinya Kerajaan Safawi yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik antara dua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejenak ketika tercapai perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namun, tak lama kemudian, Abbas meneruskan konflik tersebut, dan setelah itu dapat dikatakana tidak ada lagi perdamain antara dua kerajaan besar Islam itu.[15]
Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi. Ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman, di samping pecandu berat narkotik, juga menyenangi kehidupan malam beserta harem- haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menangani pemerintahan. Begitu juga Sultan Husain.
Penyebab penting lainnya adalah karena pasukan ghulam (budak- budak) yag dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. Hal ini disebabkan karena pasukn tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani seperti yang dialami oleh Qizilbash. Sementara itu, anggota Qizilbash yang baru ternyata tiadak memiliki militansi dan semangat yang sama dengan anggota Qizilbash sebelumnya.
Tidak kalah penting dari sebab di atas adalah seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana. .[16]
   
F.Kesimpulan
Ø  Kerajan safawi di Persia baru berdiri ketika kerajaan ustmani mencapai masa kejayaan,keraaan safawi ini berkembang sangat pesat dan secara terang-terangan kerajaan ini menyatakan syiah sebagai madzad yang di anutnya,kerajaan ini berasal dari gerakan tarekat yang berkebang pesat yang di pimpin oleh safi al-din,kemudian gerakan tarekat ini beribah menjadi kerasjaan pada masa kepemimpinan ismail,anak dari juneid,pimpinana tarekat sebelumnya.
Ø  Pada masa kepemimpinannya juneid,gerakan ini mulai menambahka unsure politik pada setiap kegiatan keagamaanya,karna hal inilah juneid terlibat konflik dan di asingkan di sebuah daerah yang kemudian di daerah itulah ia mendapat bantuan,sekaligus mengembangkan politiknya dan berhasil beraliansi secara politik dengan uzun hasan seorang raja di daerah tersebut.
Ø  Kemajuan kerajaan safawi ini mencapai masa puncaknya pada masa kepemimpinan abbas I yang memerintah pada tahun1588M setelah raja kelima,dengan beberapa usahanya ia berhasil menyatukan kembali kerajaan safawi yang semula mengalami perpecahan,dan berhasil membuat kuet kerajaan tersebut sehingga dapat merebut kembali wilayah-wilayah yang hilang sebelunya selain itu kemajuan dalam hal yang lain juga berkembang seperti dalam bidang ekonomi,ilmu pengetahuan,pembangunan fisik dan seni,kemajuan yang di capai inilah yang membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar yang di segani oleh lawan-lawannya terutama dalam bidang politik dan militer.
Ø  Kerajaan safawi mengalami kemunduran pada masa setelah kepemimpinan abbas I yang berturut-turut dipimpin oleh enam raja yaitu:safi mirza.abbasII,sulaiman,Husain,tahmasp dan abbasIII pada masa inilah kerajaan menunjukan penuruan dan kemunduran dan akhirnya menjadi hancur,selaun itu konflik yang tidak pernah padam antara kerajaan usmani juga mempercepat kehancuran,ddan di tambah lagi dengan konflik intern dalam kerajaan safawi serta

  G.Daftar pustaka
Dedi supriyadi,M.ag.sejarah peradapan islam.(bandung:pustaka setia,2008)
Dr.badri yatim,M.A.sejarah peradapan islam,dirasah islamiyah II.(jakarta:PT raja grafindo persada,2006).
Dr.H ahmad wahid.sejarah kebudayaan islam XII.(yogyakarta,pustaka insan madani).




      



  


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradapan Islam dirasah islamiyah ii,(jakarta,PT Raja grafindo persada.2006) hal 138
[2] Ibid,hal.138
[3] Badri yatim,op,cit,hal146
[4] Badri Yatim,,op.cit hal 138-142
[5] Dedi Supriyadi,sejarah peradaban islam,(bandung:pustaka setia,2008) hal 255
[6] Ibid.
[7] Badri Yatim,op.cit, hal 144
[8] Ibid,
[9] Dedi supriyadi .op,cit.hal.258
[10] H ahmad wahid,sejarah kebudayaan islam XII,(Yogyakarta,pustaka insan madani)hal.86
[11] Badri yatim.op.cit, hal 145
[12] Ibid,
[13] Ibid.
[14] H ahmad wahid,op,cit.hal86
[15]Badri yatim,op,cit, hal 158                                                                     
[16] Ibid.hal.158-159

1 komentar:

  1. Very interesting article, glad to read the article on your website, I am waiting for the other article I read. thank you very

    BalasHapus